Konstruksi Jembatan Beton Bertulang

Jembatan merupakan keliru satu bentuk konstruksi yang berfungsi meneruskan jalan melalui suatu rintangan. Seperti sungai, lembah dan lain-lain sebagai akibatnya lalu lintas jalan nir terputus olehnya.

Dalam perencanaan konstruksi jembatan dikenal dua bagian yg Jasa Konstruksi medan adalah satu kesatuan yg utuh yakni :

Bangunan Bawah ( Sub Struktur )

Bangunan Atas ( Super Struktur )

Bangunan atas terdiri berdasarkan lantai tunggangan, trotoar, tiang-tiang sandaran & gelagar.

Bangunan bawah terdiri dari pondasi, abutmen, pilar jembatan dan lain-lain.

Pemilihan bentuk jembatan sangat dipengaruhi oleh syarat menurut lokasi jembatan tadi. Pemilihan lokasi tergantung medan berdasarkan suatu wilayah dan tentunya diubahsuaikan dengan kebutuhan wargapada daerah menggunakan kata lain  bentuk menurut konstruksi jembatan harus layak & hemat.

Perencanaan konstruksi jembatan berkaitan dengan letaknya. Oleh beberapa ahli memilih syarat-syarat untuk acuan dari suatu perencanaan jembatan menjadi berikut :

Letaknya dipilih sedemikian rupa berdasarkan lebar pengaliran supaya bentang higienis jembatan tidak terlalu panjang.

Kondisi dan parameter tanah dari lapisan tanah dasar hendaknya memungkinkan perencanaan struktur pondasi lebih efesien.

Penggerusan ( scow-ing ) dalam penampang sungai hendaknya bisa diantisipasi sebelumnya dengan baik agar profil saluran di daerah jembatan bisa teratur & panjang.

Dari syarat-kondisi tadi diatas sudah dijelaskan bahwa pemilihan penepatan jembatan adalah keliru satu berdasarkan rangkaian system perencanaan konstruksi jembatan yg baik, namun demikian aspek–aspek yang lain permanen sebagai bagian yang penting, misalnya saja system perhitungan konstruksi; penggunaan struktur ataupun mengenai system nonteknik misalnya obyektifitas pelaksana pada merealisasikan jembatan tadi.

Mengenai bentuk-bentuk jembatan dapat dibedakan sesuai menggunakan:

Jembatan adonan baja & beton

Jembatan yg dapat digerakan, merupakan jenis jembatan baja yang pelaksanaannya dibentuk menjadi gelagar dinding penuh.

Jembatan tetep, jenis jembatan misalnya ini dipakai untuk keperluan lalu lintas. Seperti jembatan kayu, jembatan beton dan jembatan batu.

Jembatan beton merupakan jembatan yang konstruksinya terbuat dari material primer bersumber berdasarkan beton.

Beton merupakan suatu campuran yg terdiri menurut agregat alam misalnya kerikil, pasir, & bahan perekatBahan perekat yg biasa digunakan adalah air & semen. Secara umum, beton dibagi pada dua bagian yaitu:

Beton bertulang adalah suatu bahan bangunan yg bertenaga, tahan lamadan bisa dibentuk sebagai berbagai ukuran. Mamfaat dan keserbangunannya dicapai dengan mengkombinasikan segi-segi yang terbaik menurut beton dan baja menggunakan demikian bila keduanya dikombinasikan, baja akan bisa menyediakan kekuatan tarik & sebagian kekuatan geser.

Beton tidak bertulang hanya sanggup atau kuat menahan kekuatan tekan berdasarkan beban yg diberikan.

Beban Yang Dihitung Dalam Merencanakan Jembatan

Secara generik beban – beban yang dihitung pada merencanakan jembatan dibagi atas dua yaitu beban utama & beban sekunder. Beban primer adalah beban utama dalam perhitungan tegangan buat setipa perencanaan jembatan, sedangkan beban sekunder merupakan beban sementara yg mengakibatkan tegangan – tegangan yang relatif kecil daripada tegangan akibat beban utama & umumnya tergantung berdasarkan bentang,bahan,sistem kontruksi,tipe jembatan & keadaan setempat.

Beban utama merupakan beban yg adalah muatan utama pada perhitungan tegangan untuk setiap perencanaan jembatan.

Beban primer jembatan mencakup beban mangkat ,beban hayati dan beban kejut.

Beban mangkatmerupakan semua muatan yang dari berdasarkan berat sendiri jembatan atau bagian jembatan yg dipandang, termasuk segala unsur tambahan tetap yang dianggap adalah satu satuan dengan jembatan (Sumantri, 1989:63). Dalam memilih besarnya muatan tewas wajibdipergunakan nilai berat volume buat bahan-bahan bangunan.

Contoh beban mati pada jembatan: berat beton, berat aspal, berat baja, berat pasangan bata, berat plesteran dll.

Dimana :    QMS= Berat sendiri

h    = Tebal slab lantai jembatan

wc  = Berat beton bertulang ( yang disyaratkan dalam RSNI       T-02-2005 merupakan dari 23,5-25,lima )

Beban mati tambahan menggunakan menggunakan rumus menjadi berikut:

Dimana :   QMA     = Beban mati tambahan

ta          = Tebal lapisan aspal + ovelay ( berat yg   ditetapkan pada RSNI T-02-2005 adalah 22,0 )

ha         = Tebal genangan air hujan ( berat yg   ditetapkan pada RSNI T-02-2005 adalah 9,8 )

Yang termasuk menggunakan beban hayati merupakan beban yang berasal berdasarkan berat tunggangan-kendaraan bergerak lalu lintas &/atau pejalan kaki yg dianggap bekerja pada jembatan. Berdasarkan PPPJJR-1987, laman 5-7, beban hidup  yg ditinjau terdiri berdasarkan :

Beban “T”(Beban lantai tunggangan)

Beban “T” adalah beban kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda (Dual Wheel Load) sebesar 10 ton, yang bekerja dalam semua lebar bagian jembatan yang dingunakan buat kemudian lintas kendaraan.

Beban hidup dalam lantai jembatan berupa beban roda ganda sang Truk (beban T) yg besarnya, T = 100 kN. Jasa Konstruksi Dengan memakai rumus:

PTT       = Beban truk “T”

DLA    = Faktor beban bergerak maju buat pembebanan truk

Beban “D”(Jalur kemudian lintas )

Beban “D” adalah susunan beban dalam setiap jalur kemudian lintas yang terdiri menurut beban garis “P” ton per jalur lalu lintas (P = 12 ton) dan beban terbagi homogen “q” ton per meter panjang per jalur menjadi berikut:

q = dua,dua t/m                                                    buat L < 30 m.

q = 2,2 t/m – (1,1/60) x (L – 30) t/m        buat 30 m < L < 60 m.

q = 1,11 + (30/L)                                      untuk L > 60 m.

Ketentuan penggunaan beban “D” dalam arah melintang jembatan sebagai berikut:

Untuk jembatan dengan lebar lantai tunggangan < 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) harus dibebankan pada seluruh jembatan.

Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan > 5,50 m, beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada lebar jalur lima,50 m sedangkan lebar selebihnya dibebani hanya separuh beban “D” (50%).

model beban hidup dalam jembatan: beban kendaraan yang melintas, beban orang berjalan dll.

Menurut Anonim (1987:10) beban kejut diperhitungkan efek getaran-getaran dari impak bergerak maju lainnya., tegangan-tegangan dampak beban garis (P) wajibdikalikan dengan koefisien kejut. Sedangkan beban terbagi rata (q) dan beban terpusat (T) nir dikalikan dengan koefisien kejut. Besarnya koefisien kejut dipengaruhi dengan rumus:

L = Panjang dalam meter menurut bentang yang bersangkutan

Beban sekunder merupakan beban pada jembatan-jembatan yg merupakan beban atau muatan sementara, yg selalu bekerja pada perhitungan tegangan dalam setiap perencanaan jembatan. Pada umumnya beban ini mengakibatkan tegangan-tegangan yang relative lebih minidari dalam tegangan-tegangan dampak beban utama, dan umumnya tergantung berdasarkan bentang, system jembatan, dan keadaan setempat.

Sedangkan Beban Sekunder terdiri dari beban angin, gaya rem, dan gaya akibat disparitas suhu.

Pengaruh tekanan angin bekerja pada arah horizontal sebesar 100 kg/cm2. Dalam memperhitungkan jumlah luas bagian jembatan pada setiap sisi digunakan jumlah luas bagian jembatan dalam setiap sisi dipakai ketentuan menjadi berikut:

Ø  Untuk jmbatan berdinding penuh diambil sebesar 100% terhadap luas sisi jembatan

Ø  Untuk jembatan rangka diambil sebanyak 30% terhadap luas sisi jembatan.

Beban garis merata tambahan arah horisontal pada permukaan lantai jembatan akibat angin yg meniup kendaraan pada atas jembatan dihitung menggunakan rumus :

Cw = koefisien seret = 1,dua ( RSNI T-02-2005 )

Bidang vertikal yang ditiup angin adalah bidang samping kendaraan dengan tinggi  ( h )   = dua.00 m di atas lantai jembatan.

Jarak antara roda tunggangan ( x ) = 1.75 m

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *