Pengalaman “Kos” di Hostel di Jogja

Yang sudah pernah membaca artikel ini:

58

Tanpa disadari dua bulan ini saya nomaden hidupnya. Setelah awal bulan Desember saya ngekos di Boboliving Pancoran Jakarta, saya sempat (seolah-olah) ngekos di hostel di Jogja.

Saya bilang seolah-olah, karena sebenarnya saya tinggal di hostel itu awalnya cuma dua hari. Kemudian extend dua hari. Kemudian tak terasa dua minggu saya di hostel ini. Udah kayak ngekos aja ‘kan ya.

Habisnya malas cari tempat lain. Jadi ya mager aja di hostel Wonderloft Jogja yang sempat saya tulis di sini.

Dan ternyata nggak cuma saya kaum pekerja yang tinggal di Wonderloft. Hostel Jogja Ada beberapa yang juga reserve kamar mingguan.

Nah, apa yang membedakan kos di hostel dengan di kos-kosan biasa?

Yang pertama, jelas, tipe kamar yang kita tempati ya. Apalagi kalau kita ambil tipe kamar dormitory dengan bunk bed. Kudu sharing dengan orang lain.

Awalnya saya tinggal di kamar yang khusus female. Di sini ada tiga bunk bed, jadi sekamar ada enam orang khusus cewek.

Lalu saat saya extend, kamar female dormitory ini full di satu tanggal. Akhirnya demi menambah pengalaman juga, saya pindah ke kamar depan yang mixed dormitory.

Alias cowok cewek campur sekamar.

Yang saya tempati ada empat ranjang tingkat tiga. Jadinya total ada 12 manusia dalam satu kamar (kalau Hostel Jogja Murah full).

Gaduh? Nggak juga. Rata-rata penghuni kamar sudah beraktivitas sejak pagi. Keluar untuk jalan-jalan. Kamar jadi sepi. Saya bisa bekerja dengan tenang di kamar, atau kalau bosan, pergi ke kopisop kesayangan.

Jadi ya kayak tinggal di kos-kosan biasa, selain sharing kamar berbanyak tadi.

Kalau kamar mandi sih, jelas sharing juga ya. Tapi selama tinggal di Wonderloft, nggak pernah ada kesulitan musti ngantri lama untuk mandi atau ke toilet.

Pintar-pintar atur jadwal aja. Kalau memang ada urusan penting di pagi hari, ya jangan mepet waktu mandinya.

Oya, kalau di kos kita tinggal di kamar, di hostel area tinggal kita seuplik doang alias bed kita. Dan locker, yang tersedia sekiranya kita butuh tempat untuk menaruh barang-barang.

Enaknya, kita nggak usah bebersih kalau di hostel. Ada housekeeping yang setia bebersih setiap harinya. Mau minta ganti handuk juga boleh.

Kalau di kos ‘kan kita kudu bebersih kamar sendiri. Belum lagi kalau kamar mandi sharing. Biasanya ada jadwal piket penghuni kos untuk gosek kamar mandi.

Jadi praktis ‘kan kalau tinggal di hostel? Tinggal tidur, kerja, tidur, kerja, gitu aja.

Mau ngopi, ada dapur bersama di hostel kalau mau masak air, atau pakai air panas dari dispenser.

Untuk laundry, banyak pilihan. Ada satu coin laundry yang saya suka di daerah Prawirotaman. Namanya Onespin Laundry. Kita bisa cuci sendiri menggunakan mesin cuci kecil atau besar. Kalau yang kecil, total Rp. 25.000 untuk mesin cuci dan mesin pengering, sudah termasuk sabun cair dan pengharum pakaian. Selama menunggu mesin cuci selesai bekerja, kita bisa kerja atau internetan karena Onespin menyediakan internet yang bersahabat sekali kecepatannya.

Oya, Internet di Wonderloft juga terhitung kencang. Jarang trouble. Saya bisa Google Meet-an atau Zoom-an dengan tenang.

Ini saya sertakan beberapa catatan dari saya kalau kalian mau cobain kos di hostel. Berlaku secara umum ya, nggak cuma untuk Wonderloft hostel favorit saya ini.Jangan egois. Karena kita berbagi ruang tinggal dengan yang lain, kita kudu pintar berlaku dan bertindak. Misalnya: jangan ngobrol dengan suara keras, di tengah malam pula.Dari kita juga, jangan banyak menuntut. Harap maklum jika kita berbagi ruang, jadi jangan mudah terganggu jika tetangga bed kita bercakap dengan suara keras. Kalau merasa terganggu, sampaikan saja keberatan dengan sopan.Jangan manja. Self-service lah, kalau misalnya habis pakai gelas atau piring atau alat dapur lainnya, cuci sendiri setelah kita pakai. Itu nggak termasuk job desc housekeeping, biasanya.Kalau stay seminggu lebih, lebih baik booking langsung ke hostel daripada lewat online travel agent. Kemungkinan besar bisa dapat harga lebih murah.Jangan lupa olahraga. Biasanya karena udah wuenak di hostel, apalagi di Wonderloft tempat tidurnya entah napa wuenak tenan, jadi jarang bergerak. Sesekali ganti suasana biar nggak bosan. Ngopi di luar, atau kerja di coworking space. Meskipun makan bisa pesan Gofood biar praktis, tapi sekali-kali keluarlah dari hostel biar nggak jenuh.

Beda dengan kos di Boboliving yang bed kita ada dalam pod berupa kapsul dan nyaris kita tidak berinteraksi dengan penghuni lain kecuali jika kita ke luar pod, kos di hostel masih membuat aktivitas kita bersinggungan dengan penghuni lain.

Tapi bolehlah, buat refreshing kalau bosan di kamar kos yang itu-itu saja. Nyobain kos di hostel, mengapa tidak? Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *